ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN GANGGUAN SOL
A. Konsep Dasar
1. Pengertian
a. Tumor otak merupakan sebuah lesi yang terletak pada intrakranial yang menempati ruang di dalam tengkorak. (Suzanne dan Brenda G Bare. 1997: 2167)
b. Tumor berarti benjolan, yaitu suatu proses yang mengambil tempat. (Soemarmo Markam. 2009: 266)
c. Tumor otak merupakan salah satu tumor susunan saraf pusat, baik ganas maupun tidak. Tumor ganas disusunan saraf pusat adalah semua proses neoplastik yang terdapat dalam intrakranial atau dalam kanalis spinalis, yang mempunyai sebagian atau seluruh sifat-sifat proses ganas spesifik seperti yang berasal dari sel-sel saraf di meaningen otak, termasuk juga tumor yang berasal dari sel penunjang (Neuroglia), sel epitel pembuluh darah dan selaput otak. (Fransisca B Batticaca. 2008: 84)
d. Tumor intrakranial meliputi lesi desak ruang jinak maupun ganas yang tumbuh di otak meaningen dan tengkorak. (Arif Muttaqin. 2008: 264)
Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa tumor otak merupakan lesi desak ruang pada intrakranial, baik ganas maupun tidak.
2. Anatomi Fisiologi
Susunan saraf adalah sistem yang menngontrol tubuh kita yang terus menerus menerima, menghantarkan dan memproses suatu informasi dan bersama sistem hormon, susunan saraf mengkoordinasikan semua proses fungsional dari berbagai jaringan tubuh, organ dan sistem organ manusia.
Pembagian susunan saraf:
a. Susunan saraf pusat
1) Medulla spinalis
2) Otak: - otak besar
- otak kecil
- batang otak
b. Susunan saraf perifer
1) Susunan saraf somatik
2) Susunan saraf otonom
3) Susunan saraf simpatis
4) Susunan saraf parasimpatis
5)
Susunan saraf somatik adalah susunan saraf yang mempunyai peranan spesifik untuk mengatur aktivitas otot sadar atau serat lintang. Saraf ini mengontrol otot rangka dan mengahantarkan impuls sensori ke otak. Susunan saraf otonom atau tidak sadar adalah susunan saraf yang mempunyai peranan penting mempengaruhi pekerjaan otot involunter (otot polos) seperti jantung, hati, pankreas, jalan pencernaan, kelenjar, dan lain-lain. Susunan saraf otonom dibagi menjadi susunan saraf simpatik (menyebabkan tubuh dalam keadaan aktif) dan susunan saraf parasimpatik (sistem pengontrol konstruktif dan menyenangkan).
MEANINGEN
Meaningen (selaput otak) adalah selaput yang membungkus otak dan sumsum tulang belakang, melindungi struktur saraf halus yang membawa pembuluh darah dan cairan sekresi (cairan cerebrospinalis), memperkecil benturan atau getaran yang terdiri dari tiga lapisan.
Durameter (lapisan luar) adalah selaput keras pembungkus otak yang berasal dari jaringan ikat tebal dan kuat. Durameter pada tempat tertentu mengandung rongga yang mengalirkan darah vena ke otak.
Arakhnoid (lapisan tengah) merupakan selaput halus yang memisahkan durameter dengan piameter membentuk sebuah kantong atau balon berisi cairan otak yang meliputi seluruh susuanan saraf sentral.
Medula spinalis terhenti setinggi di bawah lumbal I-II, terdapat sebuah kantong berisi cairan.
Piameter (lapisan dalam) merupakan selaput tipis yang terdapat pada permukaan jaringan otak. Piameter berhubungan dengan arakhnoid melalui struktur-struktur jaringan ikat yang disebut trabekel.
OTAK
Otak merupakan alat tubuh yang sangat penting karena merupakan pusat komputer dari semua alat tubuh. Bagain dari saraf sentral yang terletak di dalam rongga tengkorak (cranium) dibungkus oleh selaput otak yang kuat. Otak berkembang dari sebuah tabung yang mulanya memperlihatkan tiga gejala pembesaran otak awal.
a. Otak depan menjadi hemisfer serebri, corpus striatum, talamus, serta hipotalamus.
b. Otak tengah, tegmentum, krus serebrium, corpus kuadrigeminus.
c. Otak balakang, menjadi pons saroli, medula oblongata, dan serebelum.
SEREBRUM
Serebrum (otak besar) merupakan bagian yang terluas dan terbesar dari otak, berbentik telur, mengisi penuh bagian depan atas rongga tengkorak. Pada otak besar ditemukan beberapa lobus, yaitu:
a. Lobus frontalis, adalah bagian dari serebrum yang terletek di depan sulkus sentralis berfungsi untuk mengontrol perilaku individu, membuat keputusan, kepribadian dan menahan diri.
b. Lobus parientalis, terdapat di depan sulkus sentralis dan dibelakangi oleh korako oksipitalis, berfungsi menginterpretasikan sensasi, berfungsi mengatur individu mampu mengetahui posisi dan letak bagain tubuhnya.
c. Lobus temporal, terdapat di bawah lateral dari fisura serebralis dan di depan lobus oksipitalis berfungsi menginterpretasikan sensasi kecap, bau, pendengaran, dan ingatan jangka pendek.
d. Lobus oksipitalis, yang mengisi bagian belakang dari serebrum berfungsi dalam menginterpretasikan penglihatan.
Korteks serebri selain dibagi dalam lobus dapat juga dibagi menurut fungsi dan banyaknya area. Campbel membagi bentuk korteks serebri menjadi 20 area. Secara umum korterks serebri dibagi mejadi 4 bagian:
a. Korteks sensoris. Pusat sensasi umum primer atau hemiserebri yang mengurus bagian badan luar daerah korteks yang menangani suatu alat atau bagain tubuh bergantung pada fungsi alat yang bersangkutan. Disamping itu juga korteks sensoris bagian fisura lateralis menangani bagian tubuh bilateral lebih dominan.
b. Korteks asesori. Tiap indra manusia, korteks asesori sendiri merupakan kemampuan otak manusia dalam bidang intelektual, ingatan, berpikir, rangsangan, yang ditermia diolah dan disimpan serta dihubungkan dengan data yang lain.
c. Korteks motoris. Menerima impuls dari korteks sensori, fungsi utamanya adalah kontribusi pada traktus piramidalis yang mengatur bagian tubuh kontra lateral.
d. Korteks pre-frontal. Terletak pada lobus frontalis berhubungan dengan sikap mental dan kepribadian.
Fungsi serebrum:
a. Mengingat pengalaman masa lalu.
b. Pusat persarafan yang menangani, aktivitas mental, akal, intelegensi, keinginan dan memori.
c. Pusat menangis, buang air besar, dan buang air kecil.
BATANG OTAK
Diensefalon ke atas berhubungan dengan serebrum dan medula oblongata ke bawah dengan medula spinalis. Serebrum melekat pada batang otak dibagian medula oblongata. Pons varoli dan mensefalon. Hubungan serebelum dan medula oblongata disebut korpus refiformi, sebelum dengan pons varoli disebut brakium pontis, dan serebelum dengan mensefalon disebut brakium konjungtiva.
Batang otak terdiri dari:
a. Diensefalon, bagain batang otak paling atas terdapat diantara serebelum dengan mensefalon. Diensefalon dibagi menjadi 4 wilayah:
1) Talamus merupakan stasium pemancar yang menerima impuls aferen dari seluruh tubuh lalu memprosesnya dan meneruskannya ke segmen otak yang lebih tinggi.
2) Hipotalamus merupakan pusat pengontrol susunan saraf otonom juga mempengaruhi metabolisme, observasi makanan, dan mengatur suhu tubuh, karena letaknya dekat dengan kelenjar pituitari.
3) Subtalamus. Fungsinya belum dapat dimengerti sepenuhnya tetapi lesi pada subtalamus dapat menimbulkan diskenisia diamatis yang disebut nemibalismus yang ditandai olah gerakan kaki atau tangan yang terhempas kuat pada satu sisi tubuh (gerakan involunter).
4) Epitalamus. Dengan sistem limbik dan berperan pada beberapa dorongan emosi dasar dan itegrasi informasi olfaktorius.
Fungsi diensefalon:
1) Vasokonstriktor, mengecilkan pembuluh darah.
2) Respiratori, membantu proses persarafan.
3) Mengontrol kegiatan refleks.
4) Membantu kerja jantung.
b. Masenfalon, atap dari masenfalon terdiri dari 4 bagian yang menonjol ke atas. Dua disebelah atas disebut korpus kuadrigeminus superior dan dua disebelah bawah disebut kuadrigeminus inferior.
Fungsi mensefalon:
1) Membantu pergerakan mata dan mengangkat kelopak mata.
2) Memutar mata dan pusat pergerakan mata.
c. Pons varoli, brakium pontis yang menghubungkan mensefalon dengan pons varoli dengan serebelum, terletak di depan serebelum diantara otak tengah dan medula oblongata. Disini terdapat premotoksid yang mengatur gerakan pernapasan dan refleks. Fungsinya:
1) Penghubung antara kedua bagian serebelum dan juga antara medula oblongata dengan serebelum / otak besar.
2) Pusat nervus trigeminus.
d. Medula oblongata, merupakan bagian dari batang otak yang paling bawah yang menghubungkan pons varoli dengan medula spinalis. Fungsi medula obongata:
1) Mengontrol kerja jantung.
2) Mengecilkan pembuluh darah (vasokonstriktor).
3) Pusat pernapasan.
4) Mengontrol kegiatan refleks.
SEREBELUM
Serebelum (otak kecil) terletak pada bagian bawah dan belakang tengkorak dipisahkan dengan serebelum oleh fisura transveralis di belakangi oleh pons varoli dan diantar medula oblongata. Organ ini banyak meneri serabut aferen sensoris, merupakan pusat koordinasi dan integrasi.
Korteks serebelum dibentuk oleh substansia grisea terdiri dari 3 lapisan yaitu granular luar, lapisan purkinye, dan lapisan granular dalam. Serabut saraf yang masuk dan yang keluar dari serebelum harus melewati serebelum.
SARAF OTAK
Susunan saraf terdapat pada bagian kepala yang keluar dari otak dan melewati libang yang terdapat pada tulang tengkorak, berhubungan erat dengan otak panca indra mata, telinga, hidung, lidah dan kulit. Saraf kepala terdiri dari:
a. Nervus olfaktorius. Sifatnya sensoris menyerupai hidung, membawa rangsangan aroma (bau-bauan) dari rongga hidung ke otak.
b. Nervus optikus. Sifatnya sensoris, mensarafi bola mata, membawa rangsangan penglihatan ke otak.
c. Nervus okulomotoris. Saraf ini bersifat motoris, mensarafi otot-otot orbital (otot-otot penggerak bola mata).
d. Nervus troklealis. Sifatnya motoris, mensarafi otot-otot orbital dan merupakan saraf pemutar mata yang pusatnya terletak di belakang pusat saraf penggerak mata.
e. Nervus trigeminus. Sifatnya majemuk (sensoris-motoris), saraf ini mempunyai 3 cabang:
1) Nervus oflamikus: sifatnya sensoris, mensarafi kulit kepala bagian depan,
2) kalopak mata atas, selaput lendir kelopak mata, dan bola mata.
3) Nervus maksialis: sifatnya sensoris, mensarafi gigi atas, bibir atas, palatum, batang hidung, rongga hidung, dan sinus maksilaris.
4) Nervus mandibularis: sifatnya majemuk (sensori-motori). Serabut-serabut motorisnya mensarafi otot-otot pengunyah.
f. Nervus abdusen. Sifatnya motoris, mensarafi otot-otot orbital. Fungsinya sebagai saraf penggoyang sisi mata.
g. Nervus fasialis. Sifatnya majemuk (sensori-motoris), serabut-serabut motorisnya mensarafi otot-otot lidah dan selaput lendir rongga mulut. Di dalam saraf ini terdapat serabut-serabut saraf otonom (parasimpatis) untuk wajah dan kulit kepala. Fungsi sebagai mimik wajah dan menghantarkan rasa pengecap.
h. Nervus auditorius. Sifatnya sensori, mensarafi alat pendengar, membawa rangsangan dari pendengaran dan dari telingan ke otak. Fungsi sebagai saraf pendengar.
i. Nervus glosofaringeus. Sifatnya majemuk (sensori-motoris), ia mensarafi faring, tonsil dan lidah. Saraf ini dapat membawa rangsangan cita rasa ke otak.
j. Nervus vagus. Sifatnya majemuk (sensori-motoris), mengandung serabut-serabut saraf motorik, sensorik dan parasimpatis, faring, laring, paru-paru, esofagus, gaster intestinum minor, kelenjar-kelenjar pencernaan dalam abdomen, dan lain-lain.
k. Nervus asesorius. Sifatnya motoris dan mensarafi muskulus sternokleidomastoid dan muskulus trapezium. Fungsinya sebagai saraf perasa.
l. Nervus hipoglosus. Sifatnya motoris dan mensarafi otot-otot lidah. Fungsinya sebagai saraf lidah.
m.
Selain saraf-saraf otak terdapat juga saraf medula spinalis yang berjumlah 31 pasang:
a. Servikal: 8 pasang
b. Torakal: 12 pasang
c. Lumbal: 5 pasang
d. Sakral: 5 pasang
e. Koksigea: 1 pasang
Penyebaran semua saraf medula spinalis dimulai dari torakal 1 sampai dengan lumbal 3, mempunyai cabang-cabang dalam saraf akan keluar membentuk pleksus dan ini akan membentuk saraf tepi (perifer):
a. Pleksus servikalis, dibentuk oleh cabang-cabang saraf servikalis anterior dari saraf servikal 4 dan torakal 1, saraf terpenting nervus mediana.
b. Pleksus lumbalis, dibuat oleh serabut saraf dan torakal 12, saraf terbesar yaitu nervus femoralis dan nervus obturator.
c. Pleksus lubrosakralis, dibentuk oleh saraf lumbal dan sakral, saraf skiatik yang merupakan saraf terbesar keluar mempersarafi otot anggota gerak bawah.
Pembuluh darah yang mendarahi otak tardiri dari :
a. Sepasang pembuluh darah karotis : denyut pembuluh darah besar ini dapat kita raba dileher depan, sebelah kiri dan kanan dibawah mandibula, sepasang pambuluh darah ini setelah masuk ke rongga tengkorak akan bercabang menjadi tiga :
1) Sebagian menuju ke otak depan (arteri serebri anterior)
2) Sebagian menuju ke otak belakang (arteri serebri posterior)
3) Sebagian menuju otak bagian dalam (arteri serebri interior)
Ketiganya akan saling berhubungan melalui pembuluh darah yang disebut arteri komunikan posterior.
b. Sepasang pembuluh darah vertebralis : denyut pembuluh darah ini tidak dapat diraba oleh karna kedua pembuluh darah ini menyusup ke bagian samping tulang leher, pembuluh darah ini mendarahi batang otak dan kedua otak kecil, kedua pembuluh darah teersebut akan saling berhubungan pada permukaan otak pembuluh darah yang disebut anastomosis.
Cairan serebrospinal adalah hasil sekresi pleksus koroid. Cairan ini bersifat alkali bening mirip plasma. Sirkulasi cairan serebrospinalis, cairan ini disalurkan oleh pleksus koroid ke dalam ventrikel yang ada dalam otak, kemudian cairan masuk ke dalam kanalis sumsum tulang belakang dan ke dalam ruang subarackhnoid melalui ventrikularis.
Setelah melintasi ruangan seluruh otak dan sumsum tulang belakang maka kembali ke sirkulasi melalui glandula arakhnoid pada sinus sagitalis superior. Perjalanan cairan serebrospinalis, setelah meninggalkan ventrikel lateralis (ventrikel I dan II) cairan otak dan sumsumtulang belakang menuju ventrikel III melalui foramen monroi dan terus ke ventrikel IV melalui aquaduktus silvi cairan dialirkan ke foramen magendi selanjutnya ke sisterna magma dan ke kanalis spinalis. Dari sisterna magna cairan akan membasahi bagian-bagian dari otak. Selanjutnya, cairan ini akan diabsorpsi oleh vili-vili yang terdapat pada arakhnoid.

Gambar : Bagian-bagian Otak

Gambar : Jaras Saraf
3. Klasifikasi
Tumor-tumor otak dapat dikalsifikasikan ke dalam beberapa kelompok besar:
a. Tumor yang muncul dari pembungkus otak, seperti meningioma.
Meningioma merupakan tumor asal meningen, sel-sel mesotel, serta sel-sel jaringan peyambung arakhnoid dan duramater yang paling penting. Sebagian tumor adalah jinak, berkapsul, dan tidak menginfiltrasi jaringan yang berdekatan namun menekan struktur yang berada di bawahnya.
Lokasinya sering di sebelah kanan atau kiri sutura sagital, di krista sfenoidea, di sekitar sela tursika dan di daerah nervus olfaktorius. Meningioma juga dijumpai dalam kanal vertebra. Meningioma yang jinak menyebabkan takanan terhadap jaringan di sekitarnya. Yang ganas menyabuk jaringan tulang maupun jaringan otak yang dinamakan meningiosarkoma. Ada jenis lain meningioma yang ganas lokal dan hanya tumbuh menyembuk ke dalam tulang, jenis ini dinamakan meningioma infiltrans. Tumor ini dapat menembus tulang tengkorak dan terdapat di dalam otot-otot di bawah kulit kepala. Gambaran histologis meningioma ialah sel-sel yang intinya bundar-bundar kecil yang tersusun dalam lingkaran-lingkaran. Bagian pusar lingkaran atau pusaran ini dapat mengapus hingga membentuk psamona. Tumor ini dapat mengandung banyak pembuluh darah.
Oleh karena pertumbuhan tumor yang lambat, gejala-gejala mungkin tidak diperhatikan dan diagnosis sama sekali salah. Gejala-gejala antara lain epilepsi idiopatik, hemiparesis, dan afasia. Akan tetapi meningioma yang tumbuh pada regio intrakranial tertentu akan menunjukkan manifestasi yang lebih spesifik:
1) Lekuk olfaktorius: anosmia unilateral kemudian bilateral, edema papil, disfungsi lobus frontalis.
2) Regio parasagital: paraparesis spastik yang menyerupai lesi medula spinalis.
3) Sinus kavernosus: oftalmoplegia unilateral (palsi nervus III, IV, dan VI) dan gangguan sensorik trigeminus (regio oftalmika dan kadang maksilaris).
4) Nervus optikus: beberapa meningioma pada os sfenoid dapat menekan nervus optikus dan menyebabkan gangguan penglihatan unilateral dan atrofi optik. Ekspansi tumor lebih lanjut menyebabkan edema papil kontralateral (sindrom Foster-kennedy).
5) Kadang-kadang meningioma tidak membentuk massa tetapi dapat menyebar dalam lapisan tipis di atas permukaan dura (meningioma en plague)
b. Tumor yang berkembang di dalam atau di atas saraf kranial, yaitu neuroma akustik.
Tumor ini berasal dari sel-sel sarung schwann yang melingkupi saraf perifer. Di dalam rongga tengkorak tumor ini biasanya tumbuh pada nervus VIII dari sudut yang dibentuk olah medula oblongata, pons, dan serebelum. Karena itu tumor ini memberikan gejala yang disebut sindrom anngiilus medulo pentoserebelum.
Neurinoma ialah tumor spinal yang paling sering dijumpai di dalam kanal vertebra. Tumor yang ganas disebut neurinosa poma. Sel-sel ini berbentuk lonjong-lonjong bila terpotong memanjang dan tersusun dalam aliran-aliran. Tidak jarang nukleus sel-sel ini tersusun seperti pagar yang disebut formasi palisade.
Pertumbuhan tumor lebih lanjut menyebabkan araksia ipsilateral akibat kompresi batang otak, serebelum, dan palsi nervus kranialis bagian bawah (bulbar). Akhirnya terjadi gambaran peningkatan tekanan intrakranial, terutama jika terjadi hidrosefalus akibat obstruksi pada tingkat ventrikel ke empat. Tumor lain yang dapat mengenai sudut serebelopontin termassuk meningioma dan metastasis.
c. Tumor yang berasal dari dalam jaringan otak, seperti pada jenis glioma.
Glioma bertanggung jawab atas sekitar 40-50% tumor intrakranial. Glioma diklasifikasikan atas dasar asal embriologis. Pada orang dewasa, sel neuroglia susunan saraf pusat berfungsi untuk perbaikan, penyokong, dan pelindung sel-sel saraf yang lunak. Glioma terdiri atas jaringan penyambung dan sel-sel penyokong yaitu neuroglia yang mempunyai kemampuan untuk terus membelah selam hidup. Sel-sel glia berkumpul membentuk parut sikatriks padat dibagian otak, tempat neuron menghilang oleh karena cedera/penyakit. (price dan Wilson, 1995).
Terdapat 3 jenis sel glia, oligodendroglia, dan astrosit. Mikroglia secara embriologis berasal dari lapisan mesodermal oleh karena itu pada umumnya tidak diklasifikasikan sebagai sel glia sejati. Mikroglia masuk ke dalam susunan saraf melalui sistem pembuluh darah dan berfungsi sebagai fagosit, membersihkan debris, serta melawan infeksi. Oligodendroglia dan astrosit merupakan neuroglia sejati seperti neuron dan berasal dari lapisan embrional ekstrodermal. Oligodendroglia berperan dalam pembentuk mielin. Fungsi astrosit masih dalam penyelidikan. Bukti-bukti memperlihatkan bahwa sel-sel ini mungkin berperan dalam menghantarkan impuls dan transmisi sinapsis dari neuron dan bertindak sebagai saluran penghubung antara pembuluh darah dan neuron.
1) Astrositoma
Astrositoma ialah tumbuh ganda yang berasal dari astrosit. Neoplasma ini lebih sering dijumpai pada usia dewasa muda dan dapat tumbuh di semua bagian otak. Secara anatomi patologis ada 4 derajat keganasan : astrositoma derajat 1 terdiri atas sel-sel yang menyerupai astrosit normal. Astrositoma derajat 2 sel-sel lebih padat, besarnya tidak sama, pembuluh-pembuluh darah mulai berproliferase.
Astrositoma derajat 3 tampak tanda-tanda keganasan yang jelas yaitu pleiositosis, mitosis yang sering kali tidak normal, terdapat sel-sel raksasa, proliferase pembuluh darah disertai perdarahan-perdarahan.
Astrositoma derajat 4 tanda-tanda keganasan lebih hebat lagi. Astrositoma derajat 3 dan 4 juga disebut glioblastoma multiforme. Astrositoma baik jinak maupun ganas tidak menunjukkan batas yang jelas dengan jaringan yang sehat. Hal ini menimbulkan kesukaran bagi dokter yang mengoperasi untuk menentukan sampai berapa banyak jaringan yang harus diangkat. Neoplasma ini juga dijumpai di dalam medula spinalis tetapi lebih jarang. Klien sering tidak datang berobat walaupun tumor sudah berjalan bertahun-tahun sampai timbul gejala, misalnya serangan epilepsi atau nyeri kepala.
2) Oligodendroglioma
Oligodendroglioma mirip dengan astrositoma namun terdiri atas sel-sel oligodendroglioma. Tumor relatif avaskuler dan cenderung mengalami klasifikasi.
3) Ependimoma
Tumor ganas yang berasal di bagian dalam dinding ventrikel. Pasa anak-anak tempat yang palling sering adalah ventrikel keempat. Tumor ini menyerang jaringan sekitarnya dan menyumbat ventrikel. Kematian biasanya terjadi dalam 3 tahun / kurang.
d. Adenome Hipofisis
Tumor ini sering dijumpai dalam klinik. Asal tumor ini ialah sel-sel kelenjar hipofisis, karena pertumbuhan tumor ini kiasma optik yang terletal di atasnya akan tertekan dengan akibat timbulnya gangguan dalam lapang pandang. Karena hipofisis belahan depan ialah kelenjar endokrin, pada adenoma hipofisis akan timbul gejala-gejala endokrin yang sifatnya ditentukan oleh jenis tumor. Ada 3 jenis adenoma hipofisis, yaitu adenoma eosinofil, adenoma basofil, adenoma kromofob.
Adenoma eosinofil pada anak-anak akan mengakibatkan pertumbuhan raksasa. Jadi lebih besar dan lebih tinggi daripada orang biasa. Pada orang dewasa akan timbuk keadaan yang dinamakan akromegali yaitu pembesaran tangan, kaki, jari-jari, mandibula, kulit, dan lidah menebal.
Pada adenoma basofil, bila timbul pada anak-anak akan terjadi distrofi adiposogenital yaitu penimbunan lemak di daerah muka, leher, bahu, abdomen, disertai hiportrofi genital eksterna. Mungkin dijumpai hipertensi dan osteoporosis.
Pada adenoma kromofob, berat badan bertambah, libido berkurang. Bila fungsi seluruh kelenjar menjadi berkurang akan timbul keadaan hipopitultarismus atau sindroma sbeehan yakni kakeksia nervosa, disebut juga penyakit simmonds.
e. Aneurisma, Hematoma, malformasi pembuluh darah
Pada aneurisma terjadi pelebaran setempat pada arteri hingga terbentuk tumor. Sebelum aneurisma pecah, gejala-gejalanya menyerupai tumor sebebri. Hematoma intraserebi dapat pula memberikan gejala-gejala seperti tumor. Begitu pula malformasi pembuluh darah.

4. Faktor-faktor Risiko
a. Genetik
Tumor susunan saraf pusat primer nerupakan komponen besar dari beberapa gangguan yang diturunkan sebagi kondisi autosomal, dominant termasuk sklerasis tuberose, neurofibromatosis.
b. Kimia dan Virus
Pada binatang telah ditemukan bahwa karsinogen kimia dan virus menyebabkan terbentuknya neoplasma primer susunan saraf pusat tetapi hubungannya dengan tumor pada manusia masih belum jelas.
c. Radiasi
Pada manusia susunan saraf pusat pada masa kanak-kanak menyebablkan terbentuknya neoplasma setelah dewasa.
d. Trauma
Trauma yang berulang menyebabkan terjadinya meningioma (neoplasma selaput otak). Pengaruh trauma pada patogenesis neoplasma susunan saraf pusat belum diketahui.Gejala Klinis
5. Gejala Klinis
a. Nyeri Kepala
Nyeri kepala merupakan gejala umum yang dirasakan pada tumor intrakranium. Sifat dari nyeri kepala itu adalah nyeri berdenyut-denyut atau rasa penuh di kepala seolah-olah mau meledak. Nyerinya paling hebat di pagi hari, karena selama tidur malam PCO2 arteri serebral meningkat sehingga mengakibatkan peningkatan dari CBF dan dengan demikian meningkatkan lagi tekanan intrakranium dan diperberat saat beraktifitas, yang biasanya menyebabkan peningkatan TIK yaitu batuk, membungkuk dan mengejan.. Lokalisasai nyeri yang unilateral akan sesuai dengan lokasi tumornya.
Pada penderita yang tumor serebrinnya belum meluas, mungkin saja sakit kepala belum dirasakan. Misalnya, glioma pada tahap dini dapat mendekam di otak tanpa menimbulkan manifestasi apapun. Sebaliknya, astrositoma derajat 1 sekalipun dapat berefek buruk jika menduduki daerah yang penting, misalnya daerah bicara motorik Brocca.
Neoplasma di garis tengah fosa kranium posterior (tumor infratentorial) (Dorland hal 41) dapat dengan cepat menekan saluran LCS. Karena itu, sakit kepala akan terasa sejak awal dan untuk waktu yang lama tidak menunjukkan gejala defisit neurologik. Tumor infratentorial yang berlokasi di samping (unilateral) cepat menimbulkan gejala defisit neurologik akibat pergeseran atau atau desakan terhadap batang otak. Maka dari itu, tuli sesisi, vertigo, ataksia, neuralgia trigeminus, oftalmoplegia (paralisis otot-otot mata) dan paresis (paralisis ringan) perifer fasialis dapat ditemukan pada pemeriksaan.
b. Muntah
Terjadi sebagai akibat rangsangan pusat muntah pada medula oblongata dan berhubungan dengan peningkatan TIK yang disertai pergeseran batang otak. Muntah sering timbul pada pagi hari setelah bangun tidur. Hal ini disebabkan oleh tekanan intrakranium yang meninggi selama tidur malam, di mana PCO2 serebral meningkat. Sifat muntah dari penderita dengan tekanan intrakranium meninggi adalah khas, yaitu proyektil atau muncrat yang tanpa didahului mual.
c. Papiledema
Papiludema (edema pada discus opticus) dapat timbul akibat tekanan intrakranium yang meninggi atauapun karena penekanan pada nervus optikus secara langsung. Pupil akan terlihat berwarna merah tua dan ada perdarahan di sekitarnya, kadang disertai gangguan penglihatan, termasuk pembesaran bintik buta dan amaurosis fugaks ( saat-saat di mana penglihatan berkurang). Untuk melihat papiledemea, dapat dilakukan funduskopi atau oftalmoskopi.
d. Kejang
Bangkitan kejang dapat merupakan gejala awal dari tumor otak pada 25% dan lebih dari 35% kasus pada stadium lanjut. Diperkirakan 2% penyebab bangkitan kejang adalah tumor otak. Perlu dicurigai penyebab bangkitan kejang adalah tumor otak bila :
1) Bangkitan kejang pertama kali pada usia lebih dari 25 tahun
2) Mengalami post ikal paralisis
3) Mengalami status epilepsi
4) Resisten terhadap obat-obatan epilepsi
5) Bangkitan disertai dengan gejala TTIK lain
6) Bangkitan kejang ditemui pada 70% tumor otak di korteks, 50% pasien dengan astrositoma, 40% pada pasien meningioma, dan 25 % pada glioblastoma.
e. Pada anak-anak, tekanan intrakranium yang meningkat dapat menyebabkan ukuran kepala membesar atau terenggannya sutura .
f. Gejala spesifik tumor otak yang berhubungan dengan lokasi :
1) Lobus Frontal
a) Menimbulkan gejala perubahan kepribadian
b) Bila tumor menekan jaras motorik menimbulkan hemiparese kontralateral, kejang fokal
c) Bila menekan permukaan media dapat menimbulkan inkontinensia
d) Bila tumor terletak pada basis frontal menimbulkan sindrom Foster Kennedy
e) Pada lobus dominan menimbulkan gejala afasia
2) Lobus Parietal
a) Dapat menimbulkan gejala modalitas sensori kortikal hemianopsi homonym
b) Bila terletak dekat area motorik dapat timbul kejang fokal dan pada girus angularis menimbulkan gejala sinrom Gosstmann’s
3) Lobus Temporal
a) Akan menimbulkan gejala hemianopsi, bangkitkan psikomotor yang didahului dengan aura atau halusinasi
b) Bila letak tumor lebih dalam menimbulkan gejala afasia dan hemiparese
c) Pada tumor yang terletak sekitar basal ganglia dapat diketemukan gejala choreothetosis, parkinsonism
4) Lobus Oksipital
a) Menimbulkan bangkitan kejang yang didahului dengan gangguan penglihatan
b) Gangguan penglihatan yang permulaan bersifat quadranopia berkembang menjadi hemianopsi, objeckagonia
5) Tumor di Ventrikel ke III
Tumor biasanya bertangkai sehingga pada pergerakan kepala menimbulkan obstruksi di cairan cerebrospinal dan terjadi peningkatan tekanan intrakranial mendadak, pasien tiba-tiba nyeri kepala, penglihatan kabur, dan penurunan kesadaran
6) Tumor di Cerebellopontin angie
a) Tersering berasal dari nervus VIII yaitu acustic neurinoma
b) Dapat dibedakan dengan tumor jenis lain karena gejala awalnya berupa gangguan fungsi pendengaran
c) Gejala lain timbul bila tumor telah membesar dan keluar dari daerah pontin angel
7) Tumor Hipotalamus
a) Menyebabkan gejala TTIK akibat okulasi dari foramen monroe
b) Gangguan fungsi hipotalamus menyebabkan gejala : gangguan perkembangan seksual pada anak-anak, amenorrhoe, duarfism, gangguan cairan dan serebrospinalis
8) Tumor di Cerebellum
a) Umumnya di dapat gangguan berjalan dan gejala TTIK akan cepat terjadi disertai dengan papil edem
b) Nyeri kepala khas di daerah oksipital yang menjalar ke leher dan spasme dari otot-otot servikal
9) Tumor Fosa Posterior
Diketemukan gangguan berjalan, nyeri kepala dan muntah disertai dengan nystacmus, biasanya merupakan gejala awal dari medulloblastoma
6. Patofisiologi
Kerusakan (atau mutasi) genetik mungkin didapat dari akibat pengaruh lingkungan seperti trauma, zat kimia, radiasi atau virus, atau diwariskan dalam sel germinativum. Hipotesis genetik pada kanker mengisyaratkan bahwa massa tumor terjadi akibat ekspansi klonal satu sel progenitor yang telah mengalami kerusakan genetik (yaitu umor bersifat monoklonal). Pendapat ini telah terbukti pada sebagian tumor yang dianalisis.
Tiga kelas gen regulatorik normal-protoonkogen yang mendorong pertumbuhan; gen penekan kanker (tumor supressor gene) yang menghambat pertumbuhan (antionkogen); dan gen yang mengatur kematian sel terencana (programmed cell death) atau apoptosis adalah sasaran utama pada kerusakan genetik
Tumor otak terjadi dari sel otak yang mempunyai deoxiribonukleat acid (DNA) abnormal. Kerusakan pada DNA atau genetik tersebut mungkin didapat akibat dari pengaruh lingkungan maupun dari dalam tubuh manusia.
Tumor otak menyebabkan gangguan neurologik progresif. Gangguan neurologik tersebut mengakibatkan peningkatan TIK. Ruang intrakranial adalah suatu ruangan kaku yang terisi penuh sesuai kapasitasnya dengan unsur yang tidak dapat ditekan: otak (1400 gr), cairan serebrospinal (kira-kira 75 ml), dan darah (kira-kira 75 ml). Peningkatan volume salah satu di antara ketiganya mengakibatkan desakan pada ruangan yang ditempati oleh unsu lainnya dan menaikkan tekanan intrakranial.
Ada mekanisme kompensasi yang bekerja bila satu dari tiga elemen intrakranial membesar melampaui proporsi normal. Proses ini sangat penting untuk mempertahankan tekanan intrakranial yang juga berarti mepertahankan intergritas otak. Perubahan kompensatoris meliputi pengalihan cairan serebrospinal ke rongga spinal, peningkatan aliran vena dari otak, dan sedikit tekanan pada jaringan otak
Peningkatan TIK dapat diakibatkan oleh beberapa faktor :
a. Bertambahnya massa dalam tengkorak
b. Terbentuknya edema sekitar tumor
c. Perubahan sirkulasi cairan serebrospinal.
Mekanisme kompensasi menjadi tidak efektif bila menghadapi tekanan TIK yang serius dan berlangsung lama. Edema otak barangkali merupakan sebab yang lazim dari peningkatan TIK.
Tekanan intrakranial pada umumnya bertambah secara berangsur-angsur. Setelah cedera kepala, timbulnya edema memerlukan waktu 36 sampai 48 jam untuk mencapai maksimum. Peningkatan TIK sampai 33 mmHg (450 mmH2O) mengurangi aliran darah ke otak secara bermakna. Iskemia yang timbul menimbulkan rangsangan pada pusat vasomotor dan tekanan darah sistemik menjadi meningkat. Rangsangan pada pusat inhibisi jantung meningkatkan bradikardia dan napas menjadi lambat. Mekanisme kompensasi ini , dikenal sebagai Reflek Cushing, membantu mempertahankan aliran darah otak. (Akan tetapi, menurunnya pernapasan mengakibatkan retensi CO2 dan mengakibatkan vasodilatasi otak yang membantu menaikkan tekanan intrakranial). Tekanan darah sistemik akan meningkat sebanding dengan peningkatan TIK, walaupun akhirnya dicapai suatu titik di mana tekanan intrakranial melebihi tekanan arteria dan sirkulasi otak berhenti dengan akibat kematian otak. Pada umumnya kejadian ini didahului oleh penurunan yang cepat dari tekanan darah arteria.
7. Pemeriksaan Diagnostik (Marilynn E . Doenges. 1999: 207)
a. CT-Scan (tanpa atau dengan kontras): mengidentifikasi adanya SOL, hemaragik, menentukan ukuran ventrikuler, pergeseran jaringan otak. Catatan: pemeriksaan berulang mungkin diperlukan karena pada iskemia atau infark mungkin tidak terdeteksi dalam 24-72 jam pasca tauma.
b. MRI: sama dengan CT-Scan dengan atau tanpa menggunakan kontras
c. Angiografi cerebral: menunjukkan kelainan sirkulasi serebral, seperti pergeseran jaringan otak akibat edema, perdarahan, trauma.
d. EEG: untuk memperlihatkan keberadaan atau berkembangnya gelombang patologis.
e. Sinar X: mendeteksi adanya perubahan struktur tulang (fraktur), pergeseran struktur dari garis tengah (perdarahan, edema), adanya fragmen tulang.
f. BAER (Brain Auditory Evoked Respons): menentukan fungsi korteks dan batang otak.
g. PET (Position Emission Tomografi): menunjukkan adanya aktivitas metabolisme pada otak.
h. Punksi Lumbal, CSS: dapat menduga kemungkinan adanya perdarahan subarakhnoid.
i. GDA (Gas Dalam Arteri): mengetahui adanya masalah ventilasi atau oksigenasi yang dapat meningkatkan TIK.
j. Kimia / elektrolit darah: mengetahui ketidakseimbangan yang berperan dalam meningkatkan TIK atau perubahan mental.
k. Pemeriksaan Toksikologi: mendeteksi obat yang mungkin bertanggung jawab terhadap penurunan kesadaran.
l. Kadar Anti Konvulsan Darah: dapat dilakukan untuk mengetahui tingkat terapi yang cukup efektif untuk mengatasi kejang.
8. Penatalaksanaan
a. Pembedahan
Tumor jinak seringkali dapat ditangani dengan eksisi komplit dan pembedahan merupakan tindakan yang berpotentif kuratif. Untuk tumor primer maligna atau tumor sekunder, biasanya sulit ditemukan.
Pembedahan tumor primer seringkali diindikasikan untuk mencapai diagnosis histologis dan jika mungkin, untuk meringankan gejala dengan mengurangi massa tumor. Pemeriksaan histologis dari biopsi tumor dapat mengkonfirmasi apakah lesi merupakan suatu glioma dan bukan neoplasma lainnya, misalnya limfoma, atau bahkan kondisi nonneoplasia, misalnya abses. Pemeriksaan ini juga memungkinkan dilakukannya penentuan tingkat derajat diferensiasi tumor yang berhubungan dengan prognosis. Jadi, pasien glioma derajat 1-2 memiliki angka harapan hidup yang tinggi. Akan tetapi, median angka harapan hidup untuk tumor yang terdiferensiasi paling buruk (derajat 4) adalah 9 bulan.
Kadang-kadang pembedahan tidak disarankan, misalnya pada pasien dengan kecurigaan glioma derajat rendah dengan gejala epilepsi. Pembedahan juga tidak tepat dilakukan pada metastasis otak multipel, dimana diagnosisnya jelas, walaupun beberapa metastasis soliter dapat ditangani dengan reaksi.
b. Radioterapi
Glioma dapat diterapi dengan raditerapi yang diarahkan pada tumor, sementara metastasis diterapi dengan radiasi seluruh otak. Radioterapi juga digunakan dalam tata laksana beberapa tumor jinak, misalnya adenoma hipofisis
c. Pendekatan stereotaktik
Pendekatan stereotaktik meliputi penggunaan kerangka 3 dimensi yang mengikuti lokasi tumor yang sangat tepat, kerangka stereotaktik dan studi pencitraan multipel (Sinar X, CT-Scan) yang lengkap digunakan untuk menentukan lokasi tumor dan memeriksa posisinya. Laser atau radiasi dapat dilepaskan dengan pendekatan stereotaktik. Radioisotop (131I) dapat juga ditempatkan langsung ke dalam tumor (brankhiterapi) sambil meminimalkan pengaruh pada jaringan otak di sekitarnya.
Penggunaan pisau gamma dilakukan pada bedah-bedahradio sampai dalam, untuk tumor yang tidak dapat dimasukkan obat, tindakan tersebut sering dilakukan sendiri. Lokasi yang tepat dilakukan dengan menggunakan pendekatan stereotaktik dan melalui laporan pengujian dan posisi pasien yang tepat. Dosis yang sangat tinggi, radiasi akan dilepaskan pada luas bagian yang kecil. Keuntungan metoda ini adalah tidak membutuhkan insisi pembedahan, kerugiannya adalah waktu yang lambat diantara pengobatan dan hasil yang diharapkan.
d. Transplantasi Sumsum Tulang Analog Intravena
Digunakan pada beberapa pasien yang akan menerima kemoterapi atau terapi radiasi, karena keadaan ini penting sekali untuk ”menolong” pasien terhadap adanya keracunan pada sumsum tulang akibat dosis tinggi kemoterapi atau radiasi. Sumsum tulang pasien diaspirasi edikit, biasanya dilakukan pada kepala iliaka dan disimpan. Pasien yang menerima dosis kemoterapi dan terapi radiasi yang banyak, akan menghancurkan sejumlah sel-sel keganasan (malignan). Sumsum kemudian diinfus kembali setelah pengobatan lengkap.
e. Terapi Medikamentosa
1) Antikonvulsan untuk epilepsi
2) Kortikosteroid (dekamentosa) untuk peningkatan teknan intrakranial. Steroid juga dapat memperbaiki defisit neurologis fokal sementara dengan mengobati edema otak.
3) Kemoterapi adalah tindakan/terapi pemberian senyawa kimia atau obat sitostatika (suatu zat-zat yang dapat menghambat proliferasi sel-sel kanker) untuk mengurangi, menghilnagkan atau menghambat pertumbuhan parasit atau mikroba di tubuh hospes (pasien). Kemoterapi dapat dipakai sebagai pengobatan tunggal untuk kanker atau bersama-sama dengan radiasi dan pembedahan.
Obat-obatan yang sering digunakan pada kemoterapi SSP adalah
a) Lomustin (Cee-Nu); D : PO: 130 mg/m2/hari sebagai dosis tunggal. Untuk mengobati penyakit hodgkin dan tumor-tumor SSP. Efek samping : kerusakan sumsum tulang dapat menetap pada penggunaan lama. Mual dan muntah sering terjadi dan cukup berat.
b) Karmustin (Bicnu); D: IV: 75-100 mg/m2/hari, selama 2 hari atau 200 mg/m2/hari. Untuk mengobati mieloma multipel, melanoma dan tumor-tumor SSP.
B. Konsep Asuhan keperawatan
1. Pengkajian
Pengkajian keperawatan tumor intrakranial meliputi anamnesis riwayat penyakit, pemeriksaan fisik, pemeriksaan diagnostik, dan pengkajian psikososial.
a. Anamnesis
1) Identitas klien
Identitas klien meliputi nama, umur, (sering terjadi pada usia tua), jenis kelamin, pendidikan, alamat, pekerjaan, agama suku bangsa, tanggal dan jam masuk rumah sakit, nomor register, diagnosis medik.
2) Keluhan utama
Keluhan utama yang sering menjadi alasan klien untuk meminta pertolongan kesehatan biasanya berhubungan dengan peningkatan tekanan intrakranial dan adanya gangguan vokal, seperti nyeri kepala hebat, muntah-muntah, kejang, dan penurunan tingkat kesadaran.
3) Riwayat penyakit saat ini
Kaji bagaimana terjadinya nyeri kepala sebelumnya. Pengkajian riwayat ini dapat mendukung pengkajian dan riwayat penyakit saat ini dan merupakan data dasar untuk mengkaji lebih jauh dan untuk memberikan tindakan selanjutnya.
4) Riwayat penyakit keluarga
Kaji adanya tumor intrakranial pada generasi terdahulu.
5) Pengkajian psiko-sosio-spiritual.
Pengkajian psikologis klien tumor intrakranial meliputi beberapa dimensi yang memungkinkan perawat untuk memperoleh persepsi yang jelas mengenai ststus emosi, kognitif dan perilaku klien. Apakah ada dampak yang timbul pada klien yaitu timbul seperti ketakutan akan kecatatan, rasa cemas, rasa ketidakmampuan untuk melakukan aktivitas secara optimal, dan pandangan terhadap dirinya yang salah (gangguan citra tubuh).
Adanya perubahan hubungan dan peran karena klien mengalami kesukaran untuk berkomunikasi akibat gangguan bicara. Pada pengkajian pola persepsi dan konsep diri didapatkan klien merasa tidak berdaya, tidak ada harapan, mudah marah, tidak kooperatif. Pada pengkajian pola penaggulangan stres, klien biasanya mengalami kesulitan untuk memecahkan masalah karena gangguan proses pikir dan kesulitan berkomunikasi. Sedangkan pada pengkajian pola nilai dan kepercayaan, klien biasanya jarang melakukan ibadah spiritual karena tingkah laku yang tidak stabil dan kelemahan/kelumpuhan pada salah satu sisi tubuh.
Karena klien harus mengalami rawat inap maka keadaan ini memberi dampak pada status ekonomi klien karena biaya perawatan dan pengobatan memerlukan dana yang tidak sedikit. Perspektif keperawatan dalam mengkaji, terdiri atas dua masalah, yaitu keterbatasan yang diakibatkan oleh defisit neurologis dalam hubungannya dengan peran sosial klien dan rencana pelayanan yang akan mendukung adaptasi pada gangguan neurologis di dalam sistem dukungan individu.
( Arif Muttaqin. 2008 : 478 )
6) Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan fisik sebaiknya di lakukan persisitem (B1-B6) dengan fokus pemeriksaan fisik pada pemeriksaan B3 (Brain) yang terarah dan dihubungkan dengan keluhan-keluhan dari klien.
B1 (Breathing )
Inspeksi, pada keadaan lanjut yang disebabkan adanya kompresi pada medula oblongata di dapatkan tidak ada kelainan. Palpasi thoraks di dapatkan taktil fremitus seimbang kanan da kiri. Auskultasi tidak di dapatkan bunyi nafas tambahan.
B3 (Brain)
Pengkajian B3 (Brain) merupakan pemeriksaan fokus dan lebih lengkap di bandingkan pengkajian pada sistem lainnya.
Trias klasik tumor otak adalah nyeri kepala, muntah, dan papiledema.
TINGKAT KESADARAN
Pada keadaan lanjut tingkat kesadaran klien tumor intrakranial biasanya berkisar pada tingkat letargi, stupor dan semikomatosa. Apabila klien sudah mengalami koma maka penilaian GCS sangat penting untuk menilai tingkat kesadaran klien dan bahan evaluasi untuk pemantauan pemberian asuhan keperawatan.
Fungsi serebri :
a) Status mental : observasi penampilan klien dan tingkah lakunya, nilai gaya bicara dan observasi eksprasi wajah klien, aktivitas motorik pada klien tumor intrakranial tahap lanjut biasanya status mental klien mengalami perubahan.
b) Fungsi intelektual : di dapatkan penurunan dalam ingatan dan memori baik jangka pendek maupun jangka panjang. Penurunan kemampuan berhitung dan kalkulasi. Pada beberapa kasus klien mengalami brain damage, yaitu kesukaran untuk mengenal persamaan dan perbedaan yang tidak begitu nyata.
Hemiparesis disebabkan oleh tekanan pada daerah dan lintasan motorik di dekat tumor. Jika daerah motorik terlibat, akan terjadi epilepsi Jackson dan kelemahan motorik yang jelas. Tumor yang menyerang ujung bawah korteks plasentralis menyebabkan kelemahan pada wajah, lidah, dan ibu jari sedangkan tumor pada lobus parasentralis menyebabkan kelemahan pada kaki dan ekstremitas bawah.
Tumor pada lobus frontalis dapat menyebabkan gaya berjalan yang tidak mantap, sering menyerupai ataksia sereblum. Bila lobus frontalis kiri atau yang dominan terkena, akan terlihat adanya afasia dan apraksia.
Kerusakan fungsi kognitif dan efek psikologis di dapatkan bila kerusakan telah terjadi pada lobus frontal kapasitas, memori, atau fungsi intelektual kortikal yang lebih tinggi mungkin rusak. Disfungsi ini dapat ditunjukan dalm lapang perhatian terbatas, kesulitan dalam pemahaman, lupa dan kurang motivasi, yang menyebabkan klien ini menghadapi masalah frustasi dalam program rehabilitasi mereka. Masalah psikologis lain juga umum terjadi dan di manifestasikan oleh labilitas emosional, bermusuhan, frustasi, dendam, dan kurang kerjasama.
Pemeriksaan saraf kranial.
a) Saraf I : Pada klien tumor intrakranial yang tidak mengompresi saraf ini tidak ada kelainan pada fungsi penciuman.
b) Saraf II : Gangguan lapang pandang disebabkan lesi pada bagian tertentu dari lintasan visual (khiasma optikum, traktus optikus, korpus genikolatum lateraleradrasiooptika, lobus oksipitalis, korteks asosiatif).
Papiledema
Papiledema disebabkan oleh stasis vena yang menimbulkan pembengkakan papilla saraf optikus. Bila terlihat pada pemeriksaan funduskopi tanda ini mengisyaratkan peningkatan tekanan intrakranial. Menyertai papiledema dapat terjadi gangguan penglihatan, termasuk pembesaran bintik buta dan amaurosis fugaks (saat-saat penglihatan berkurang).
c) Saraf III, IV, VI : Adanya kelumpuhan unilateral atau bilateral dari saraf VI memberikan manifestasi pada suatu tanda adanya glioblastoma multiforme.
d) Saraf V : Pada keadaan tumor intrakranial yang tidak mengompresi saraf trigeminus maka tidak ada kelainan pada fungsi saraf ini. Pada neurolema yang mengganggu saraf ini akan didapatkan adanya parilisis wajah unilateral.
e) Sarar VII : Persepsi pengecapan dalam batas normal, wajah asimetris, otot wajah tertarik kebagian sisi yang sehat.
f) Saraf VIII : Pada neurolema di dapatkan adanya tuli persepsi. Tumor lobus temporalis menyebabkan tinnitus dan halusinasi pendengaran yang mungkin di akibatkan iritasi korteks pendengaran temporalis atau korteks yang berbatasan.
g) Saraf IX dan X : Kemampuan menelan kurang baik, kesukaran membuka mulut.
h) Saraf XI : Tidak ada atrofi otot sternokleidomastoldeus dan trapezius.
i) Saraf XII : Lidah simetris, terdapat deviasi pada satu sisi dan fasikulasi. Indra pengecapan normal.
System motorik
Lesi serebelum mengakibatkan gangguan pergerakan (keseimbangan dan koordinasi). Gangguan yang paling sering dijumpai kurang menyolok tetapi memiliki karakteristik yang sama dengan tumor serebelum yaitu hipotonia (tidak adanya resistensi normal terhadap regangan atau perpindahan anggota tubuh dari sikap aslinya) dan hiperekstensibilitas sendi. Gangguan dalam koordinasi berpakaian merupakan ciri khas pada klien dengan tumor pada lobus temporalis.
Gerakan involunter
Pada keadaan tertentu klien biasanya mengalami kejang umum, terutama pada tumor lobus oksipital. Kejang berhubungan sekunder akibat area vokal kortikal yang peka.
2. Diagnosa keperawatan
a. Perubahan perfusi jaringan serebral b.d penghentian aliran darah oleh SOL ( hemoragi, hematoma ). Diagnosa ini diambil karena Iskemia yang timbul akibat aliran darah ke otak menurun yang disebabkan edema otak menimbulkan retensi CO2 sehingga pertukan oksigen antara darah ke otak maupun karbondioksida dari otak ke darah menjadi terganggu dan menimbulkan perubahan perfusi jaringan serebral.
Tujuan :
1) Tingkat pengaliran darah melalui pembuluh kecil ekstremitas dan memelihara fungsi jaringan
Kriteria hasil :
1) Klien menunjukkan perfusi jaringan ( nilai 1-5 : ekstren, berat, ringan, sedang, ringan/tidak terganggu ) : tingkat sensasi, suhu ekstremitas hangat, tidak ada nyeri ekstremitas yang terlokalisasi.
Intervensi :
1) Tentukan faktor-faktor yang berhubungan dengan keadaan tertentu atau yang menyebabkan koma/penurunan perfusi jaringan otak dan potensial peningkatan TIK.
Rasional : Menentukan pilihan intervensi. Penurunan tanda/gejala neurologis atau kegagalan dalam pemulihannya setelah serangan awal mungkin menunjukkan bahwa pasien itu perlu di pindahkan ke perawatan intensif untuk memantau tekanan TIK dan/pembedahan.
2) Pantau /catat status neurologis secara teratur dan bandingkan dengan nilai standar ( misalnya skala coma glascow ).
Rasional : Mengkaji adanya kecenderungan pada tingkat kesadaran dan potensial peningkatan TIK dan bermanfaat dalam menentukan lokasi, perluasan dan perkembangan kerusakan ssp.
3) Kaji respon motorik terhadap perintah yang sederhana, gerakan yang bertujuan ( patuh terhadap perintah, berusaha untuk menghilangkan rangsang nyeri yang diberikan ) dan gerakan yang tidak bertujuan ( kelainan postur tubuh ). Catat gerakan anggota tubuh dan catat sisi kiri dan kanan secara terpisah.
Rasional : Mengukur kesadaran secara, keseluruhan dan kemampuan untuk berespon pada rangsangan eksternal dan merupakan petunjuk keadaan kesadaran terbaik pada pasien yang matanya tertutup sebagai akibat dari trauma atau pasien yang apasia. Pasien dikatakan sadar bila dapat meremas atau melepas tangan pemeriksa atau menggerakkan tangan sesuai perintah.
4) Pantau tekanan darah, catat adanya hipertensi sistolik secara terus menerus dan tekanan nadi yang semakin berat; observasi terhadap hipertensi pada pasien yang mengalami trauma multipel.
Rasional : Normalnya, autoregulasi mempertahankan aliran darah otak yang konstan pada saat fluktuasi tekanan darah sistemik. Kehilangan autorgulasi dapat mengikuti kerusakan vaskularisasi serebral lokal atau menyebar. Peningkatan tekanan darah sistemik yang diikuti oleh penurunan tekanan darah diastol merupakan tanda terjadinya peningkatan TIK, jika diikuti oleh penurunan tingkat kesadaran. Hipovolemia/hipertensi dapat juga mengakibatkan kerusakan/iskemi serebral.
5) Frekuensi jantung, catat adanya bradikardi, takikardi, atau bentuk disritmia lainnya.
Rasional : Perubahan pada ritme dan disritmia dapat timbul, yang mencerminkan adanya depresi/trauma pada batang otak pada pasien yang tidak mempunyai kelainan jantung sebelumnya.
6) Kaji perubahan pada penglihatan, seperti adanya penglihatan yang kabur, ganda, lapang pandang menyempit dan kedalaman persepsi.
Rasional : Gangguan penglihatan, yang dapt di akibatkan oleh kerusakan mikroskopik pada otak, mempunyai konsekuensi terhadap keamanan dan juga akan mempengaruhi pilihan intervensi.
b. Resiko tinggi terhadap pola nafas tidak efektif b.d kerusakan neurovaskuler ( cedera pada pusat pernafasan otak ). Iskemia yang timbul menimbulkan rangsangan pada pusat inhibisi jantung meningkatkan bradikardia dan napas menjadi lambat. Pernapasan yang lambat mengakibatkan resiko tinggi terhadap pola napas yang tidak efektif.
Tujuan :
1) Pergerakan udara kedalam dan keluar dari paru-paru
2) Ventilasi tidak terganggu ditandai dengan ekspansi dada simetris, tidak ada pengguanaan otot bantu, tidak ada nafas pendek.
Kriteria hasil :
1) Klien akan memiliki tingkat kesadaran stabil atau terdapat perbaikan.
Intervensi :
1) Pantau frekuensi, irama, kdalaman pernafasan. Catat ketidakteraturan pernafasan.
Rasional : Perubahan dapat menandakan awitan komplikasi pulmonal atau menandakan lokasi/luasnya keterlibatan otak. Pernafasan lambat, periode apneu dapat menandakan perlunya ventilasi mekanis.
2) Pantau penggunaan dari obat-obat depresan pernafasan, seperti sedativ.
Rasional : Dapat meningkatkan gangguan/komplikasi pernafasan.
3) Pantau atau gambarkan analisa gas darah, tekanan oksimetri
Rasional : Menentukan kecukupan pernafasan, keseimbangan asam basa dan kebutuhan akan terapi.
4) Berikan oksigen
Rasional : Memaksimalkan oksigen pada darah arteri dan membantu dalam pencegahan hipoksia, jika pusat pernafasan tertekan, mungkin di perlukan ventilasi mekanik.
5) Jelaskan pada klien tentang etiologi/faktor pencetus adanya sesak.
Rasional : Pengetahuan apa yang di harapkan dapat mengembangkan kepatuhan klien terhadap rencana terapeutik.
c. Resiko tinggi terhadap trauma b. d iritasi korteks serebral. Diagnosa ini diambil karena bertambahnya massa pada otak yang disebabkan oleh tumor mengakibatkan penekanan pada jaringan parenkim otak. Hal ini menyebabkan suplai darah ke otak menurun dan terjadi nekrosis atau kematian jaringan pada otak. Area yang terkena, salah satunya yaitu lobus oksipital yang mengakibatkan terjadinya kejang. Kejang tersebut tidak dapat diprediksi kapan terjadinya sehingga klien memiliki risiko tinggi trauma akibat kejang tersebut.
Tujuan :
1) Pengendalian resiko : tindakan untuk menghilangkan atau menurunkan ancaman kesehatan aktual, personal, dan yang dapat di modifikasi.
Kriteria hasil :
1) Klien akan berpartisipasi kedalam penampilan untuk mengidentifikasi resiko.
2) Klien dapat mengikuti strategi pengendalian resiko yang terpilih.
Intervensi :
1) Pantau adanya kejang/kedutan pada tangan, kaki, mulut atau otot wajah yang lain.
Rasional : Mencerminkan adanya iritasi ssp secara umum yang memerlukan evaluasi segera dan intervensi yang mungkin untuk mencegah komplikasi.
2) Berikan keamanan pada pasien dengan memberi bantalan pada penghalang tempat tidur, pertahankan penghalang tempat tidur terpasang dan pasang jalan nafas buatan plastik/gulungan lunak dan alat penghisap .
Rasional : Melindungi pasien jika terjadi kejang, catatan : memasukkan jalan nafas buatan/gulungan lunak hanya jika rahangnya relaksasi, jangan di paksa, memasukkan ketika giginya mengatup dan akan mengakibatkan jaringan lunak akan rusak.
3) Berikan obat sesuai indikasi seperti fenitoin ( dilantin ), diazepam ( valium ), fenobartial ( luminal ).
Rasional : Merupakan indikasi untuk penanganan dan pencegahan kejang, catatan : fenobartial dapat menyebabkan depresi pernafasan dan sedativ serta menutupi tanda/gejala dari peningkatan TIK.
PENDIDIKAN KESEHATAN
a. Perfusi jaringan, perubahan serebral b.d penghentian aliran darah oleh SOL ( hemoragi, hematoma )
1. Melakukan sirkulasi perifer secara komperhensif ( misalnya : periksa nadi perifer, edema, pengisian kapiler, warna, dan suhu ekstremitas ).
2. Kaji tingkat rasa tidak nyaman atau nyeri.
3. Periksa kulit setiap hari dari adanya perubahan integritas kulit.
4. Pentingnya mematuhi diet dan program pengobatan.
5. Melaporkan tanda dan gejala yang mungkin membutuhkan pemberitahuan dari dokter.
6. Rendahkan ekstremitas untuk meningkatkan sirkulasi arteri dengan tepat.
2. Resiko tinggi terhadap inefektif pola nafas yang b. d imobilitas, tekanan dan nyeri.
a Informasikan kepada pasien dan keluarga tentang tekhnik relaksasi untuk meningkatkan pola pernafasan.
b Informasikan kepada pasien atau keluarga bahwa tidak boleh merokok di ruangan.
c Instruksikan kepada pasien atau keluarga bahwa harus memberitahukan pada saat terjadi ketidakefektifaan pola nafas
d Laporkan perubahan sensori, bunyi nafas, pola pernafasan, nilai GDA, sputum, dan seterusnya, sesuai dengan kebutuhan atau protokol.
e Berikan tindakan nebulizer ultrasonik dan udara pelembab atau oksigen sesuai dengan program atau protokol institusi.
f Berikan obat nyeri untuk pengoptimalan pola pernafasan. Spesifikkan jadwal.
g Informasikan kepada pasien sebelum memulai prosedur yang di maksudkan, untuk menurunkan ansietas dan meningkatkan perasaan kontrol.
h Pertahankan oksigen aliran darah rendah dengan kanul, masker, nasal, sungkup atau tenda. Spesifikkan kecepatan aliran.
3. Resiko tinggi terhadap trauma b. d iritasi korteks serebral mempredisposisikan muatan neural dan aktivitas kejang umum.
a Ajarkan kepada pasien atau keluarga tindakan keamanan pada area spesifik.
b Berikan pendidikan yang berhubungan dengan strategi untuk pencegahan trauma.
c Berikan informasi tentang bahaya lingkungan dan ciri-cirinya ( misalnya : tangga, jendela, kunci pintu, kolam renang, jalan atau gerbang ).
d Modifikasi lingkungan untuk meminimalkan bahaya dan resiko; berikan alat-alat adaptif ( misalnya, pegangan pada tangga dan susulan pegangan tangan ) untuk meningkatkan keamanan lingkungan.
ASUHAN KEPERAWATAN
PADA PASIEN DENGAN GANGGUAN SOL

Disusun Oleh :
Kelompok 3
1. Arlina Elvira Syahrini (1.08.007)
2. Diah Ismi’anifatun (1.08.017)
3. Gusana Prinda (1.08.029)
4. Iis Tri Rusmiati (1.08.033)
5. Radiant Eka (1.08.054)
6. Rika Lolyta (1.08.056)
7. Yosi Rosaliya (1.08.072)
PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN TELOGOREJO
SEMARANG
2010
DAFTAR PUSTAKA
Muttaqin, Arif. 2008. Buku Ajar Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem Persarafan. Jakarta : Salemba Medika.
Harsono (Ed). 1996. Kapita Selekta Neurologi. Jogyakarta : Gadjah Mada University Press
Marilynn E. Doenges, Marry Frances Moorhouse, Alice C. Geisher. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan: Pedoman untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. Edisi 3. Jakarta : EGC.
Carpenito, Lynda Juall. 1999. Rencana Asuhan dan Dokumentasi Keperawatan: Diagnosa Keperawatan dan Masalah Kolaboratif. Edisi 2. Jakarta : EGC.
Syaifuddin. 2006. Anatomi Fisiologi untuk Mahasiswa Keperawatan . Jakarta : EGC.
B. Batticaca, Fransisca. 2008. Asuhan Keperawatan pada Klien dengan Gangguan Sistem Persarafan. Jakarta : Salemba Medika.
Brenda G. Bare, Suzanne C. Smeltzer. 1997. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Edisi 8. Jakarta : EGC.
Markam, Soemarmo. 2009. Penuntun Neurologi. Tangerang : Bina Rupa Aksara.
Robbins, Stanley. L. 2007. Buku Ajar Patologi. Jakarta : EGC.
www.wikipedia.com




























